Indeks Anomali Harga Pangan (QIPA, AIPA, IFPA): Deteksi Lonjakan Harga untuk Dashboard dan Notifikasi
Indeks anomali harga pangan dari Badan Pangan Nasional: QIPA, AIPA, IFPA, plus status Alert dan Warning per komoditas tiap bulan. Siap dipakai untuk dashboard pemantauan harga.
Lonjakan harga komoditas jarang datang tanpa tanda. Sebelum cabai rawit naik dua kali lipat, ada penyimpangan harga yang bisa diukur. Masalahnya, indikator ini biasanya baru tersedia sebagai tabel statistik di portal pemerintah, sulit diubah menjadi alert otomatis.
Indeks Anomali Harga Pangan dari API Indonesia menyediakan indikator QIPA, AIPA, dan IFPA dari Badan Pangan Nasional sebagai REST API. Tiap bulan, Anda bisa melihat komoditas mana yang keluar dari pola normal, lengkap dengan status Alert atau Warning, tanpa perlu membaca tabel manual.
Isi Datanya
Untuk setiap komoditas dan bulan, tersedia empat nilai:
- QIPA: indikator anomali harga berdasarkan kuartil.
- AIPA: indikator anomali absolut.
- IFPA: indeks gabungan yang merangkum sinyal penyimpangan harga.
- Status: Normal, Warning (Low/High Price), atau Alert (Low/High Price).
Data diperbarui tiap bulan mengikuti rilis Badan Pangan Nasional, jadi dashboard Anda tidak akan pernah tertinggal satu siklus data.
Contoh: Cek Anomali Beras Premium
Ambil status anomali terbaru untuk satu komoditas:
curl "https://use.apiindonesia.id/api/v1/harga-pangan/anomali?komoditas=beras+premium&dari=2026-08&sampai=2026-08" \
-H "x-api-key: API_KEY_ANDA"
Responsnya:
{
"success": true,
"data": [
{
"tanggal": "2026-08",
"komoditas": "Beras Premium",
"qipa": 0.212541825,
"aipa": -1.202809242,
"ifpa": -0.636668815,
"status": "Warning (Low Price)"
}
],
"meta": { "total": 1, "page": 1, "per_page": 20, "total_pages": 1 }
}
Dengan data seperti ini, aplikasi Anda bisa memberikan label otomatis: komoditas dengan status Alert (High Price) misalnya layak ditandai merah di halaman depan.
Contoh: Ambil Semua Yang Sedang Alert
Loop sederhana memakai Python untuk menemukan komoditas berstatus Alert atau Warning:
import requests
r = requests.get(
"https://use.apiindonesia.id/api/v1/harga-pangan/anomali?limit=100",
headers={"x-api-key": "API_KEY_ANDA"},
)
data = r.json().get("data", [])
alert = [d for d in data if d["status"].startswith("Alert")]
print("Jumlah komoditas alert:", len(alert))
for d in alert:
print(d["komoditas"], d["tanggal"], d["status"])
Siapa yang Butuh
- Dashboard pasokan dan harga pangan: tandai komoditas yang menyimpang sebelum barang sampai ke pasar.
- Media dan data journalism: kutip status anomali harga sebagai konteks berita inflasi pangan.
- Riset ekonomi: gunakan QIPA/AIPA/IFPA sebagai variabel dalam model deteksi dini lonjakan harga.
Cara Mulai
- Buat akun dan API key di API Indonesia, gratis 1.000 request per bulan.
- Baca dokumentasi endpoint di
/produk/harga-pangan/. - Panggil
/api/v1/harga-pangan/anomalidan pasang logika alert sesuai kebutuhan.
FAQ
Apa perbedaan QIPA, AIPA, dan IFPA? QIPA dan AIPA adalah dua cara menghitung penyimpangan; IFPA merupakan indeks gabungan yang merangkum keduanya menjadi satu sinyal.
Apa arti status Alert? Alert (High Price) artinya harga menyimpang menuju kenaikan melebihi ambang; Alert (Low Price) kebalikannya. Warning berarti mulai menyimpang namun belum ekstrem.
Seberapa sering indeks diperbarui? Mengikuti rilis bulanan Badan Pangan Nasional. Edisi terbaru yang tersedia otomatis dipakai oleh API.
Apakah indeks tersedia per komoditas saja, atau juga per wilayah? Saat ini per komoditas nasional tiap bulan; harga detail per provinsi tersedia di endpoint harga reguler.
Disclaimer
Data bersumber dari Badan Pangan Nasional dan dapat berubah sesuai rilis resmi. API Indonesia tidak mengganti sumber resmi untuk keperluan kebijakan atau pengambilan keputusan pemerintah.
